Gagal di Box Office, ‘BENYAMIN BIANG KEROK’ Dituntut Hak Cipta

Sejak resmi tayang pada 1 Maret 2018 kemarin, BENYAMIN BIANG KEROK memang meraih hasil yang di bawah harapan. Memasang aktor kelas A, Reza Rahadian sebagai si Pengki, film yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo ini justru tak sanggup menembus satu juta penonton. Dari data yang dilansir filmindonesia.or.id, BENYAMIN BIANG KEROK cuma mampu menghasilkan 740.346 penonton yang membuatnya kalah dari EIFFEL, I’M IN LOVE 2 dan YOWIS BEN.

 

Buntut dari perilisan film itu, Falcon Pictures selaku pihak produser malah dituntut oleh Syamsul Fuad terkait hak cipta skenario. Sekedar informasi, Syamsul adalah penulis skenario BIANG KEROK (1972) film yang dibintangi mendiang komedian legendaris Betawi, Benyamin Sueb. Syamsul memberanikan diri menggugat Falcon karena jalan cerita BIANG KEROK yang dia tulis 46 tahun lalu itu diadaptasi dan dimodifikasi tanpa izin oleh Falcon untuk dikembangkan di BENYAMIN BIANG KEROK.

 

Kendati namanya dituliskan di bagian credit title, ternyata masalah royalti dan hak cipta antara idtogel login Syamsul dan Falcon belum usai. Syamsul pun menunjuk Bakhtiar Yusuf sebagai kuasa hukum dan sudah melayangkan dua kali surat pernyataan pribadi serta satu kali somasi. Namun Falcon seolah tak bergeming dan enggan menghadiri sidang pertama pada 22 Maret 2018 kemarin, seperti dilansir detikHOT.

 

Sidang mediasi kedua pun berlanjut pada 5 April 2018 yang harus ditunda karena administrasi belum lengkap. Sudah mengutus kuasa hukum, Falcon yang bekerjasama dengan Max Pictures untuk BENYAMIN BIANG KEROK inipun hadir. Hanya saja sidang ini baru dilanjutkan pada 12 April 2018 yang tampaknya masih belum menemukan titik temu.

 

Falcon Pictures Belum Bayar Ganti Rugi

 

Sebagai perusahaan produksi film yang besar dan memiliki sederet film-film blockbuster, Syamsul justru menilai kalau Falcon menyepelekan masalah hak cipta ini. Bahkan hingga akhirnya BENYAMIN BIANG KEROK turun layar, Syamsul mengaku kalau dia sama sekali belum menerima royalti. Lebih lanjut Syamsul bahkan bercerita jika pihak Falcon menawar hak cipta skenario karena dirinya mengajukan Rp 25 juta, sementara Falcon cuma menyanggupi Rp 10 juta lantaran sisanya dilimpahkan ke keluarga mendiang Benyamin.

 

Demi memperkuat tuntutan, Bakhtiar pun menyiapkan berbagai bukti dokumen mengenai sinopsis cerita BIANG KEROK yang mirip dengan BENYAMIN BIANG KEROK, sekaligus saksi-saksinya. Mengenai tudingan Syamsul, Falcon dan Max Pictures yang menunjuk Atep Koswara sebagai kuasa hukum berharap semua berakhir damai. Menurut Atep, kliennya jelas punya alasan kenapa belum mengabulkan keinginan Syamsul.

 

‘BENYAMIN BIANG KEROK’ Proyek Ambisius Yang Tragis

 

Memasang Reza beserta aktor senior Rano Karno, proyek BENYAMIN BIANG KEROK memang terdengar cukup ambisius dengan budget miliaran rupiah. Sukses DILAN 1990 yang meraih lebih dari 6,3 juta penonton langsung tertutup dengan kritikan pedas atas BENYAMIN BIANG KEROK. Banyak yang menilai naskah yang ditulis Bagus Bramanti itu gagal total memperlihatkan kualitas Reza. Bahkan kritikan keras juga datang dari komunitas Betawi.

 

Menurut mereka, BENYAMIN BIANG KEROK tidak serius dalam menggarap cerita. “Semua asal comot. Memang benar Benyamin juga asal comot, tetapi beda asal comot dengan kreatifitas dibanding asal comot yang tanpa pikiran. Banyak menjiplak adegan ala Hollywood berlatar spionase dan menggambarkan kehidupan malam yang tak sesuai dengan budaya Betawi dan semangat Benyamin. Memang nama Benyamin jadi dibicarakan lagi, tapi buat apa kalau dinaikkan untuk dipermalukan?” seperti dilansir CNN Indonesia.